Kawasan Pegunungan Muria secara administratif terletak di Jawa Tengah, tepatnya di tiga kabupaten yaitu: Kudus, Jepara, dan Pati. Kawasan ini merupakan kawasan yang cukup strategis dilihat dari kesejarahannya maupun kondisi lingkungannya. Dilihat dari kesejarahannya, kawasan ini dahulu pernah menjadi pusat peradaban Kerajaan Keling (Kalingga; ± 7 M) dan menjadi daerah strategis bagi pengembangan wilayah Kerajaan Demak (± 16 M). Pada masa Kolonial Belanda, daerah ini juga sudah mulai dikembangkan menjadi salah satu sentra industri kebutuhan pemerintah Hindia Belanda (± 19 M).

Dari segi sejarah geologinya, kawasan Muria dulu sebelum abad XIV berada terpisah dari P. Jawa. Karena adanya proses erosi dan sedimentasi yang terus menerus dari P. Jawa melalui pendangkalan sungai-sungai yang mengalir ke arah selat yang menghubungkan kedua pulau pada waktu itu, maka lama kelamaan selat tertutup dan kemudian menjadi daratan hasil proses sedimentasi. Kawasan ini meliputi sebagian daerah Kudus, Jepara dan Pati. Dengan demikian, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan di pegunungan ini sudah berlangsung sangat panjang melalui proses pasang-surut perebutan kekuasaaan yang tidak jarang mengorbankan kondisi lingkungan.

Kawasan Pegunungan Muria dengan Pucak 29 (baca: songolikur) di ketinggian 1602 M dpl secara administratif terletak di Jawa Tengah, tepatnya di tiga kabupaten yaitu: Kudus, Jepara, dan Pati. Luas hutan keseluruhan Gunung Muria mencapai 69.812,08 ha, terdiri dari wilayah Kabupaten Jepara 20.096, 51 ha, kemudian 47.338 ha masuk wilayah Kabupaten Pati dan 2.377,57 ha berada dalam wilayah Kabupaten Kudus.

Data Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jawa-Madura tahun 2003 menyebutkan 38.308 ha terindikasi hutan yang mengalami kerusakan, detailnya melliputi: 13.252 ha hutan yang berada dalam Kabupaten Jepara, 23.807 ha berada di kawasan Pati dan 1.249 ha berada di Kabupaten Kudus (lihat tabel 1)

Adapun kekayaan Gunung Muria yang dicatat oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, antara lain berupa sekitar 80 jenis pohon, palem-paleman, dan rumput-rumputan. Jenis pohon hasil dari penanaman, seperti mahoni (Swietenia mahagony) yang ditanam tahun 1942, tusam (Pinus merkusii) yang ditanam tahun 1944, sengon (Albizzia falcate) yang ditanam sporadis, eucalyptus deglupa dan kopi yang mulai ditanam tahun 1942. Dari sisi fauna, dijumpai paling tidak lima jenis ular senduk (Kobra Jawa), sanca hijau, welang, weling, kera, landak, tupai, trenggiling, babi hutan, musang, ayam hutan, kijang, macan tutul, burung trucuk, kutilang, kacer kembang, lutung, cucak hijau, cucak kembang, ledekan, elang, rangkong, plontang, tekukur, gelatik, kuntul, prenjak, perkutut, ciblek, burung madu, truntung, pelatuk bawang, branjangan, burung hantu, dan brubut. (Kompas, 2003).

Selengkapnya »