Sedekah Bumi, Masyarakat Colo Gelar Pementasan Wayang

Kudus – Sedekah Bumi merupakan acara rutin tahunan masyarakat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dalam ritual sedekah bumi, di hari Jumat ada penyembelihan kerbau yang dagingnya dibagikan kepada masyarakat Desa Colo. Malam harinya masyarakat melakukan tirakatan. Di hari Sabtu pagi melakukan wasilah (pembacaan doa) di makam Sunan Muria yang berada di pucuk lereng Gunung Muria.
Setelah itu,  pada pukul 12:00-an dilakukan acara nanggap atau hiburan wayang dengan lakon among tani sebagai arti syukuran tani, masyarakat bersyukur dengan hasil tani yang telah didapat dan upaya berdoa supaya pertanian di Desa Colo semakin baik ke depannya. Acara dihelat di pelataran rumah warga yang berada di sebelah timur rumah Kepala Desa Colo, sampai pukul 16:30 WIB. Sekitar pukul 21:00 pagelaran wayang dimulai kembali dengan judul Seno Gugat Pandu Sewargo sampai pukul 04.00.  Ritual sedekah bumi dipilih pada hari Sabtu Wage, Bulan Apit yang jatuh pada 22/09/2012.
Menurut Ulya, salah seorang pengunjung, mengaku setiap ada sedekah bumi di desanya selalu datang untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit, “ Walaupun saya termasuk generasi muda, Saya tertarik dengan nyanyian sindennya, walaupun tidak tahu artinya”  akunya dengan tersenyum. Menurutnya, sedekah bumi merupakan “bancain” (mendoakan) bumi.  “Bumi yang kita pijak telah banyak memberikan manfaat pada kita terutama bagi masyarakat Desa Colo,  dan kita bersyukur berupa tirakatan dan diadakan sedekah bumi”, tambahnya.
Berbeda dengan Ulya, Maftuhah pemuda Desa Colo justru mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini, ia hadir dalam pagelaran wayang kulit karena mengantarkan adiknya yang ingin melihat wayang kulit. “Tentang pertunjukan wayang saya juga kurang faham apa yang disampaikan dan maksudnya apa, bahasanya saya tidak mengerti dengan jelas” ungkapnya. Ia berharap ada sejenis penerjemahan yang bisa membuat para generasi muda tertarik untuk mengikuti pertunjukan wayang.
Beda lagi dengan Sabrina, menurutnya acara ini bagus karena bisa nguri-nguri budaya yang secara turun temurun dari mbah Sunan. Hampir sama dengan yang lain, Elsa malah mengaku sama sekali tidak pernah datang pada acara seperti ini karena tidak ada temannya, dan dari kalangan pemuda kurang berminat. Meski demikian ia berharap acara seperti itu hendaknya dikenalkan kepada pemuda-pemudi desa bagaimanapun caranya agar tradisinya tetap berlanjut.
Ternyata banyak pemuda yang kurang tahu menahu tentang arti sedekah bumi,dan tidak tahu maksudnya pertunjukan wayang, tetapi mereka mempunyai harapan yang sama untuk desanya. Pertunjukan Wayang hendaknya diperkenalkan pada pemuda desa untuk ikut memeriahkan acara tersebut, mungkin ada organisasi pemuda-pemudi, misalnya karang taruna yang dilibatkan supaya tidak hanya orang tua saja yang tahu mengenai sedekah bumi, dan ada generasi penerusnya dari kalangan muda, tidak usah menunggu tua baru tahu (Anik-Portal UMK).